watch sexy videos at nza-vids!
/.

KOLEKSI BOKEP LENGKAP,BOKEP INDO,BARAT,ASIAN,JEPANG,CERITA SEX,PHOTO BUGIL.
PERHATIAN.!!!
DILARANG COLY DI DEPAN UMUM

Cara Download

Tante dan sepupu ku yang hot

Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan
pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi
berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh
bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari
kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat
sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung
kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman
yang luas dengan pohon-pohon perindangnya
yang tumbuh subur memayungi seantero
lingkungannya. Aku masih ingat, di samping
rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan Nila
yang dicampur dengan ikan Tombro, Greskap,
dan Mujair. Sementara ikan Geramah dipisah,
begitu juga ikan Lelenya. Dibelakang sana masih
dapat kucium adanya peternakan ayam kampung
dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek
kondang dan kenamaan. Enam tahun aku tinggal
di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku,
sebelum akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah
sekolah pelayaran yang mengantarku keliling
dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak
menginjakkan kakiku di sini. Sama sekali tidak
banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku
bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur
lima tahun saat kutinggalkan, pasti kini sudah
besar, kelas enam SD. Kulirik jarum jam tanganku,
menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat tadi
kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke
desa Kebun Agung, sleman yang masih asri
suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik
mengiringi langkah kakiku menuju ke pintu
samping. Sejenak aku mencari-cari dimana dulu
Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku
segera meraba-raba ventilasi udara di atas pintu
samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka
pintu dan menyelinap masuk ke dalam. Sejenak
aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm,
baunya harum juga. Hanya remang-remang
ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja
melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak
kamar-kamar tidur keluarga. Aku dalam hati terus-
menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau
hidup menjada, sebagai single parents, toh dia
mampu mengurusi rumah besar karyanya sendiri
ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan
Vivi yang di belakangnya aku berdiri dengan
lugunya. Aku hanya tersenyum. Kuperhatikan
celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku
terus melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar
tidur Tante Yus yang jelas sekali lampunya masih
menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci.
Kubuka perlahan dan hati-hati. Aku hanya
melongo heran. Kamar ini kosong melompong.
Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante
Yus ada di ruang kerjanya yang ada di sebelah
kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel
parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos
oblong Jogja serta celana jeans biruku.
Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit
gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat
kerjaku pada sebuah kapal pesiar itu terdapat
sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian
tumbuh kekar dan sehat. Tidak perduli dengan
kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut
bulu yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan
tangan dan kakiku serta dadaku yang membidang
sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus
ke bawah tentunya. Air. Ya aku hanya ingin
merasakan siraman air shower dari kamar mandi
Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu. Aku
hendak melepas cawat hitamku saat kudengar
sapaan yang sangat kukenal itu dari belakangku,
"Andrew..? Kaukah itu..?" Aku segera memutar
tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan
Tante Yus yang agak berbeda. Dia berdiri
termangu hanya mengenakan kemeja lengan
panjang dan longgar warna putih tipis tersebut
dengan dua kancing baju bagian atasnya yang
terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah
dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran
sangat besar sekali dan sangat kencang, serta
kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH,
jelas dari bayangan dua bulatan hitam yang
samar-samar terlihat di ujung kedua buah
dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong
sebatang bahunya. Kulit kuning langsat dan bersih
sekali dengan warna cat kukunya yang merah
muda. "Ngg.., selamat malam Tante Yus.. maaf,
keponakanmu ini datang dan untuk berlibur di sini
tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun
lamanya ini tidak pernah datang kemari. Hanya
lewat surat, telpon, kartu pos, e-mail.., sekali lagi,
saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan
Tante..!" ucapku sambil kubiarkan Tante Yus
mendekatiku dengan wajah haru dan senangnya.
"Ouh Andrew.. ouh..!" bisik Tante Yus sambil
menubrukku dan memelukku erat-erat sambil
membenamkan wajahnya pada dadaku yang
membidang kasar oleh rambut. Aku sejenak
hanya membalas pelukannya dengan kencang
pula, sehingga dapat kurasakan desakan puting-
puting dua buah dadanya Tante Yus. "Kau pikir
hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante,
hmm..? Tantemu ini melebihi kangennya kamu
padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!"
imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat
dekat sekali dengan kedua tangannya yang tetap
melingkarkan pada leherku, sambil kemudian
memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya
bercawat ini. Tante Yustina tersenyum mesra
sekali. Aku hanya menghapus air matanya. Ah
Tante Yus.. "Ya, untuk itulah aku minta maaf pada
Tante.." "Tentu saja, kumaafkan.." sahutnya
sambil menghela nafasnya tanpa berkedip tetap
memandangiku, "Kamu tambah gagah dan
ganteng Andrew. Pasti di kapal, banyak crew
wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa
pacarmu, hmm..?" "Belum punya Tan. Aku masih
nabung untuk membina rumah tangga dengan
seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau
minta Tante bikinkan aku desain rumah.."
"Bayarannya..?" tanya Tante Yus cepat sambil
menyambar mulutku dengan bibir tipis Tante Yus
yang merah. Aku terkejut, tetapi dalam hati
senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante Yus untuk
memelukku terus menerus seperti ini. Tapi sialnya,
batang kemaluanku mulai merinding geli untuk
bangkit berdiri. Padahal di tempat itu, perut Tante
Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan
perubahan kejadiannya. "Aku.. ngg.." "Ahh, kamu
Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm..
ouh Andrew.. hmm..!" sahut Tante Yus sambil
menerkam mulutku dengan bibirnya. Aku sejenak
terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus
yang kian binal melumat-lumat mulutku,
mendasak-desaknya ke dalam dengan buas.
Sementara jemari kedua tangannya
menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku,
terutama pada bagian punggung, dada, dan
selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi
terangsang. Kini aku berani membalas ciuman
buas Tante Yus. Nampaknya Tante Yus tidak mau
mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut
Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri
leherku dan dadaku. Beberapa cupangan yang
meninggalkan warna merah menghiasi pada leher
dan dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik
cawatku ke bawah setelah jongkok persis di depan
selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu
saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah
meregang berdiri tegak itu langsung memukul
wajahnya yang cantik jelita. "Ouh, gila benar.
Tititmu sangat besar dan kekar, An. Ouh.. hmm..!"
seru bergairah Tante Yus sambil memasukkan
batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan
mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali
dibarengi dengan mennyedot kuat dan ganas.
Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok
batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya
meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya
mengerang-ngerang merasakan sensasi yang
nikmat tiada taranya. Bagaimana tidak, batang
kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku
sana, kulatih sedemikian rupa, sehingga menjadi
tumbuh besar dan panjang. Terakhir kuukur,
batang kejantanan ini memiliki panjang 25
sentimeter dengan garis lingkarnya yang hampir
20 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.
Tante Yus terus menerus masih aktif mengocok-
ngocok batang kemaluanku. Remasan pada buah
kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan,
tetapi nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante
Yus kadangkala memukul-mukulkan batang
kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya.
Aku sendiri langsung tidak mampu menahan lebih
lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala
Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang
kejantananku pada mulut Tante Yus. Tidak karuan
lagi, Tante Yus jadi tersendak-sendak ingin muntah
atau batuk. Air matanya malah telah menetes,
karena batang kejantananku mampu mengocok
sampai ke tenggorokannya. Pada satu
kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya.
Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah
dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat benar-
benar telah membasahi kedua tubuh kami yang
sudah tidak berpakaian lagi ini. Dengan ganas,
kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok
batang kemaluanku dengan genggamannya yang
sangat erat sekali. Tetapi karena sudah ada
lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan
mempercepat proses ejakulasiku. "Croot.. cret..
croot.. creet..!" menyemprot air maniku pada
mulut Tante Yus. Saat spremaku muncrat, Tante
Yus dengan lahap memasukkan batang
kemaluanku kembali ke dalam mulutnya sambil
mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa air
maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante
Yus. "Ouhh.. ouh.. auh Tante.. ouh..!" gumamku
merasakan gairahku yang indah ini dikerjai oleh
Tante Yus. "Hmm.. Andrew.. ouh, banyak sekali
air maninya. Hmm.., lezaat sekali. Lezat. Ouh..
hmm..!" bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian
batang kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.
Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara
Tante Yus masih mengocok-ngocok dan
menjilatinya. "Ayo, Andrew.. kemarilah Sayang..,
kemarilah Baby..!" pintanya sambil berbaring
telentang dan membuka kedua belah pahanya
lebar-lebar. Aku tanpa membuang waktu lagi,
terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina
Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu.
Benar-benat lezat. Vagina Tante Yus mulai
kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan
lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagiang liang
vaginanya yang dalam. Berulang kali aku temukan
kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut
kemaluan Tante Yus memang lebat dan rindang.
Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian
daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini.
Tante Yus hanya menggerinjal-gerinjal kegelian
dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi,
Tante Yus terus-menerus melakukan remasan
pada buah dadanya sendiri sambil sesekali
memelintir puting-putingnya. Berulang kali
mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat
mulutku menciumi mulut vaginanya dan menerik-
narik daging kelentitnya. "Ouh Andrew.. lakukan
sesukamu.. ouh.., lakukan, please..!" pintanya
mengerang-erang deras. Selang sepuluh menit
kemuadian, aku kini merayap lembut menuju
perutnya, dan terus merapat di seluruh bagian
buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-
nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya
sama sekali tidak keluar, hanya puting-puting itu
yang kini mengeras dan memanjang
membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku
melukiskan cupanganku banyak sekali. Berulang
kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting
susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku
kini tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku.
Dengan bergegas, aku membimbing masuk
batang kemaluanku pada liang vaginanya.
"Ooouhkk.. yeaah.. ayoo.. ayoo.. genjot
Andrew..!" teriak Tante Yus saat merasakan batang
kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut
vaginanya. Sambil menopang tubuhku yang
berpegangan pada buah dadanya, aku semakin
meningkatkan irama keluar masuk batang
kemaluanku pada vagina Tante Yus. Wanita itu
hanya berpegangan pada kedua tanganku yang
sambil meremas-remas kedua buah dadanya.
"Blesep.. sleep.. blesep..!" suara senggama yang
sangat indah mengiringi dengan alunan lembut.
Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai
dengan sempurna, "Creet.. croot.. creet..!"
"Ouuhhkk.. aoouhkk.. aahhk..," seru Tante Yus
menggelepar-gelepar lunglai. "Tante.. ouhh..!"
gumamku merasakan keletihanku yang sangat
terasa di seluruh bagian tubuhku. Dengan batang
kemaluan yang masih tetap menancap erat pada
vagiana Tante Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus
berada di atasku. Karena kelelahanku yang sangat
menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku benar-
benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang.
Entah sudah berapa lama aku tertidur pulas, yang
jelas saat kubangun udara dingin segera
menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat
Merapi, tentu saja dingin. Tidak berapa lama jam
dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam
enam pagi..! Dengan agak malas aku beranjak
berdiri, tetapi tidak kulihat Tante Yus ada di kamar
ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus
mencoba ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku
melangkah mendekati meja lampu. Secarik kertas
kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante
Yustina. Andrew sayang, Tante kudu buru-buru
ke Jakarta pagi ini. Udah dijemput. Ada pameran di
sana. Tolong jaga rumah dan Vivi. Ttd, Yustina.
Aku menghela nafas dalam-dalam. Gila, setelah
menikmati diriku, dia minggat. Tetapi tidak apa-
apa, aku dapat beristirahat total di sini, ditemani
Vivi. Eh, tapi dimana dia..? Aku segera mengambil
selembar handuk putih kecil yang segera kulilitkan
pada tubuh bawahku. Tanpa membuang waktu
lagi aku segera menyusuri rumah, dari ruang ke
ruang dari kamar ke kamar. Tetapi sosok bocah
SD itu tidak kelihatan sama sekali. Aku hampir
putus asa, tetapi mendadak aku mendengar suara
gemericik air pancuran dari kamar mandi ruang
tamu di depan sana. Vivi. Ya itu pasti dia. Aku
segera memburu. Kubuka pintu kamar tamu yang
luas dan asri ini. Benar. Kulihat pintu kamar
mandinya tidak ditutup, ada bayangan orang di
situ yang sedang mandi sambil bernyanyi
melagukan Westlife. Edan, anak SD nyanyinya
begitu. Aku hanya tersenyum saja. Perlahan aku
mendekati gawang pintu. Aku seketika hanya
menelan ludahku sendiri. Vivi berdiri
membelakangiku masih asyik bergoyang-goyang
sambil menggosok seluruh tubuhnya yang
telanjang bulat itu dengan sabun. Rambut
panjangnya tumbuh lurus dan hitam sebatas
pinggang. Berkulit kuning langsat dan nampaknya
halus sekali. Kusadari dia telah tumbuh lebih
dewasa. Air shower masih menyiraminya dengan
hangat. Pantatnya sungguh indah bergerak-gerak
penuh gairah. Hanya aku belum lihat buah
dadanya. Tanpa kuduga, Vivi membalikkan
badannya. Aku yang melamun, seketika terkejut
bukan main, takut dan khawatir membuatnya
kaget lalu marah besar. Ternyata tidak. "Mas..? Mas
Andrew..?" bertanya Vivi tidak percaya dengan
wajah senang bercampur kaget. Aku hanya
menghela nafas lega. Dapat kuperhatikan kini,
buah dadanya Vivi telah tumbuh cukup besar.
Puting-putingnya hitam memerah kelam dan
tampak menonjol indah. Kira-kira buah dadanya
ya, sekitar seperti tutup gelas itu. Seperti belum
tumbuh, tetapi kok terlihat sudah memiliki daging
menonjolnya. Sedangkan rambut kemaluannya
sama sekali belum tumbuh. Masih bersih licin. "Hai
vivi, apa kabarnya..?" tanyaku mendekat. Vivi
hanya tersenyum, "Masih ingat ketika kita renang
bersama di rumahku dulu..? Kita berdua kan..?
Hmm..?" sambungku meraih bahunya. Air terus
menyirami tubuhnya, dan kini juga tubuhku. Vivi
mengangguk ingat. "Ya. Ngg.., bagaimana kalau
kita mandi bareng lagi Mas. Vivi kangen.. Mas
andrew.. ouh..!" ujarnya memeluk pinggangku.
Aku mengangkut tubuhnya yang setinggi dadaku
ini dengan erat. "Tentu saja, yuk..!" Aku
menurunkan Vivi. "Kapan Mas datangnya..?" "Tadi
malam. Vivi lagi tidur ya..?" "Hm.. Mh..!" Aku
melepas handukku yang kini basah. Saat kulepas
handukku, Vivi tampak kaget melihat rambut
kemaluanku yang tumbuh rapih. Segera saja
tangannya menjamah buah kemaluan dan
bantang kejantananku. "Ouh.., Mas sudah punya
rambut lebat ya. Vivi belum Mas..," ujarnya sambil
memperhatikan vaginanya yang kecil. Tentu saja
aku jadi geli, batang kemaluanku diraba-raba dan
ditimang-timang jemari tangan mungil Vivi yang
nakal ini. "Itu karena Vivi masih kecil. Nanti pasti
juga memiliki rambut kemaluan. Hmm..?" ucapku
sambil membelai wajahnya yang manis sekali.
Vivi hanya tersipu. Sialnya, aku kini jadi kian geli
saat Vivi menarik-narik batang kejantananku
dengan candanya. "Ihh.., kenyal sekali.. ouh..,
seperti belalai ya Mas..!" Aku jadi terangsang. Gila.
"Belalai ini bisa akan jadi tumbuh besar dan
panjang lho. Vivi mau lihat..?" "Iya Mas.., gimana
tuh..?" "Vivi mesti mengulum, menghisap-hisap
dan menyedotnya dengan kuat sekali batang zakar
ini. Gimana..? Enak kok..!" kataku merayu dengan
hati yang berdebar-debar kencang. Vivi sejenak
berpikir, lalu tanpa menoleh ke arahku lagi, dia
memasukkan ujung batang kejantananku ke
dalam mulutnya. Wow..! Gadis kecil ini langsung
melakukan perintahku, lebih-lebih aku
mengarahkan juga untuk mengocok-ngocok
batang kemaluanku ini, Vivi menurut saja, dia
malah kegirangan senang sekali. Dianggapnya
batang ku adalah barang mainan baginya. "Iya
Mas. Tambah besar sekali dan panjang..!" serunya
kembali melumat-lumatkan batang kejantananku
dan mengocok keras batangnya. Sekarang Vivi
kuajari lagi untuk meremas buah kemaluanku. Aku
membayangkan semua itu bahwa Tante Yus yang
melakukan. Indah sekali sensasinya. Tetapi
nyatanya aku tengah dipompa nafsu seksku dari
bocah cilik ini. Edan, sepupuku lagi. Tetapi apa
boleh buat. Aku lagi kebelet sekali kini. Yang ada
hanyalah Vivi yang lugu dan bodoh tetapi
mengasyikan sekali. Batang kejantananku kini
benar-benar telah tumbuh sempurna keras dan
panjangnya. Vivi kian senang. Aku kian tidak
tahan. "Teruskan Vi, teruskan.. ya.., ya.. lebih
keras dan kenceng.. lakukanlah Sayang..!"
perintahku sambil mengerang-erang. Setelah
hampir lima belas menit kemudian, air maniku
muncrat tepat di dalam mulut Vivi yang tengah
menghisap batang kemaluanku. "Creet.. croot..
creet.. cret..!" "Hup.. mhHP..!" teriak kaget Vivi
mau melepaskan batang kemaluanku. Tetapi
secepat itu pula dia kutahan untuk tetap
memasukkan batang kemaluanku di dalam
mulutnya. "Telan semua spermanya Vi. Itu
namanya sperma. Enak sekali kok, bergizi tinggi.
Telan semuanya, ya.. yaa.. begitu.. terus
bersihkan sisa-sisanya dari batangnya Mas..!"
perintahku yang dituruti dengan sedikit enggan.
Tetapi lama kelamaan Vivi tampak keasyikan
mencari-cari sisa air maniku. "Enak sekali Mas. Tapi
kental dan baunya, hmm.., seperti air tajin saat
Mama nanak nasi..! Enak pokoknya..! Lagi dong
Mas, keluarkan spermanya..!" Gila. Gila betul. Aku
masih mencoba mengatur jalannya nafasku, Vivi
minta spermaku lagi..? Edan anak ini. "Baik, tapi
kini Vivi ikuti perintahku ya..! Nanti tambah asyik,
tapi sakit. Gimana..?" "Kalau enak dan asyik, mauh.
Nggak papa sakit dikit. Tapi spermanya ada lagi
khan..?" Aku mengangguk. Vivi mulai kubaringkan
sambil kubuka kedua belahan pahanya yang
mulus itu untuk melingkari di pinggangku. Vivi
memperhatikan saja. Air dari shower masih
mengucuri kami dengan dingin setelah tadi
sempat kuganti ke arah cool. "Auuh, aduh.. Mas..!"
teriak vivi kaget saat aku memasukkan batang
kejantananku ke dalam liang vaginanya yang jelas-
jelas sangat sempit itu. Tetapi aku tidak perduli lagi.
Kukocok vagina Vivi dengan deras dan kencang
sambil kuremas-remas buah dadanya yang kecil,
serta menarik-narik puting-puting buah dadanya
dengan gemas sekali. Vivi semakin menjerit-jerit
kesakitan dan tubuhnya semakin menggerinjal-
gerinjal hebat. "Sakiit.. auuh Mas.., Mas hentikan
saja.. sakiit, perih sekali Mas, periihh.. ouuh akkh..
aouuhkk..!" menjerit-jerit mulut manisnya itu yang
segera saja kuredam dengan melumat-lumat
mulutnya. "Blesep.. blesep.. slebb..!" suara
persetubuhkan kami kian indah dengan siraman
shower di atas kami. Aku semakin edan dan
garang. Gerakan tubuhku semakin kencang dan
cepat. Dapat kurasakan gesekan batang
kemaluanku yang berukuran raksasa ini
mengocok liang vaginan Vivi yang super rapat
sempitnya. Dari posisi ini, aku ganti dengan posisi
Vivi yang menungging, aku menyodok vaginanya
dari belakang. Lalu ke posisi dia kupangku,
sedangkan aku yang bergerak mengguncangkan
tubuhnya naik, lalu kuterima dengan menikam ke
atas menyambut vaginanya yang melelehkan
darah. "Tidak Mass.. ouh sakit.. uhhk.. huuk..
ouhh.. sakiit..!" tangisnya sejadi-jadinya. Tetapi aku
tidak perduli, sepuluh posisi kucobakan pada
tubuh bugil mungil Vivi. Bahkan Vivi nyaris
pingsan. Tetapi disaat gadis itu hendak pingsan,
puncak ejakulasiku datang. "Creet.. croot.. sreet..
crreet..!" muncratnya air mani yang memenuhi
liang vaginanya Vivi bercampur dengan darahnya.
Vivi jatuh pingsan. Aku hanya mengatur nafasku
saja yang tidak karuan. Lemas. Vivi pingsan saat
aku memasangkan kembali batang kemaluanku ke
posisi dia, kugendong di depan dengan dadanya
merapat pada dadaku. Pelan-pelan kujatuh
menggelosor ke bawah dengan batang
kemaluanku yang masih menancap erat di
vaginanya.

Terima kasih sudah mampir disini, jangan lupa untuk balik lagi ya....
Koleksi Foto bugil terlengkap, Foto bugil Tante Girang, Foto Bugil Pelajar, Foto Bugil Jilbab, Gambar Memek, Video XXX, Cerita Sex, Foto Bugil Terbaru, Foto Bugil 2014, Video Bokep Indo, Jepang, Barat, Video Streaming

Cooltext1363165660
Di Dukung oleh
Tusfiles-logo
U-
ON
xoxHits.com
- free counter service
TOP RANK
All right Reserved
Created By :
[ EZROD - ANDIKA ]
Powered by : SEXTGEM
© 2014 - 2020